PSK

Latar belakang

Pekerja Seks komersial atau yang biasa disebut dengan kupu-kupu malam bukan berkurang setiap tahunnya justru semakin meningkat. Para pelaku atau PSK tersebut umumnya adalah para perempuan dari golongan menengah ke bawah. Mereka masuk dalam pelacuran umumnya karena tidak adanya skill dan lapangan kerja yang sesuai dengan mereka. Karena sebagian besar adalah hanya lulusan smp atau sma yang ingin mendapatkan uang secara mudah dan cepat. Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah penyumbang terbesar dalam penularan penyakit kelamin selain mengunakan jarum suntik. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari para PSK dan pelanggannya akan bahaya hubungan seks tanpa penggunaan kondom atau alat kontarsepsi. Pelacuran merupakan permasalahan yang komplek dan tidak akan pernah ada habisnya. Karena melibatkan berbagai jenis aspek kehidupan seperti social, budaya dan ekonomi.

Tujuan

  1. Mengetahui pengaruh meningkatnya PSK dengan penularan penyakit kelamin
  2. Mengetahui pengaruh para PSK terhadap lingkungan sosialnya.
  3. Mengetahui penyakit yang ditimbulkan oleh pelacuran dan pencegahannya.

Manfaat

  1. Dapat menjadi salah satu tambahan pengetahuan tentang penyakit-penyakit yang terjadi akibat seks bebas terutama yang dapat terjadi pada pekerja seks komersial.
  2. Dapat menjadi salah satu tambahan untuk pencegahan pelacuran.

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Pekerja Seks Komersial

Pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual untuk uang. Di Indonesia pelacur (pekerja seks komersial) sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku sex bebas tanpa pengaman bernama kondom.

Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.”

Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tuna susila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial. Khusus laki-laki, digunakan istilah gigolo. (http://id.wikipedia.org)

  1. Pelacuran Menurut Agama

1. Pelacuran dalam pandangan agama yahudi dan kristen

Agama Yahudi dan Kristen menyamakan penyembahan terhadap dewa-dewa lain selain kepada Allah sebagai pelacuran. Gambaran ini dapat ditemukan di dalam kitab Nabi Yehezkiel ps. 23 dan kitab Nabi Hosea (1:2-11).

Namun demikian ada pula kisah tentang Rahab, seorang pelacur bangsa Yerikho yang menyelamatkan dua orang mata-mata yang dikirim Yosua untuk mengintai kekuatan Yerikho (Yosua 2:1-14). Dalam kisah ini, Rahab dianggap sebagai pahlawan, dan karena itu ia diselamatkan sementara seluruh kota Yerikho hancur ketika diserang oleh tentara Israel yang dipimpin oleh Yosua. Kitab Yosua mengisahkan demikian: “Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho.” (Yosua 6:25).

2. Pelacuran dalam pandangan perjanjian baru

Agama Yahudi di masa Perjanjian Baru, khususnya di masa Yesus menganggap negatif praktek pelacuran. Karena itu orang baik-baik biasanya tidak mau bergaul dengan mereka bahkan menjauhkan diri dari orang-orang seperti itu. Namun demikian Yesus digambarkan dekat dengan orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat seperti para pelacur, pemungut cukai, dll. Injil Matius melukiskan demikian: “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah’.” (Matius 21:31)

Maria Magdalena, salah seorang pengikut dan murid Yesus, seringkali digambarkan sebagai seorang pelacur yang diampuni Yesus (Lukas 8:2), meskipun pendapat ini masih diperdebatkan.

Kitab Wahyu melukiskan Roma sebagai pelacur besar yang akan dijatuhi hukuman oleh Allah: “… sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.” (Wahyu 19:2; lih. pula Wahyu 17:1, 17:5, 17:15, 17:16). Di sini perlu diingat bahwa Roma yang dimaksudkan oleh penulis Kitab Wahyu ini adalah pemerintahan yang pada waktu itu menindas dan menganiaya Gereja dan orang-orang Kristen pada masa-masa permulaan agama Kristen.

3. Pelacuran dalam pandangan islam

Pelacuran dalam pandangan Islam adalah haram hukumnya.

4. Pelacuran dalam pandangan hindu

Dalam pandangan umat Hindu pelacuran sangat sangat dilarang, karena dalam Hindu, tubuh wanita itu ibarat susu kehidupan bagi generasi keberikutnya, mereka yang memperjual belikan susu kehidupan dalam pandangan hindu hukumnya adalah kutukan seumur hidup. Dalam weda sendiri yang merupakan kitab suci umat hindu pelacuran disebutkan sebagai sesuatu yang selain dipantangkan juga akan mendapatkan kutukan sebanyak 7 turunan.

5. Pelacuran dalam pandangan budha

Dalam kitab suci agama Buddha, pelacuran jelas jelas dilarang karena tidak sesuai dengan keinginan sang Budha.

  1. Penyakit Hubungan Seksual

Penyakit hubungan seksual (PHS) adalah kelompok penyakit infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual. Yang termasuk dalam PHS adalah Sifilis, Gonore (GO), Chlamydia (limfogranuloma venerium), herpes genitalis, kondiloma akuniminata, dan kutu kemaluan (public lice). Penularan PHS umumnya adalah melalui hubungan seksual(90%), sedangkan cara lainnya yaitu melalui tranfusi darah, jarum suntik, ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, dan lain-lain. Sumber penularan utama adalah wanita pekerja seksual (80%). PHS sering juga disebut penyakit kelamin, penyakit veneral, ataupun penyakit menular seksual (PMS).

1. Sifilis

Sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, syaraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, sehingga menyebabkan kelainan bawaan kepada bayi tersebut. Sifilis sering dikenal sebagai lues, raja singa.

a. Kuman penyebab : Treponema pallidum

b. Perantara : Manusia

c. Tempat kuman keluar : Penis, vagina, mulut, dan ibu hamil kepada bayinya.

d. Cara penularan : Kontak seksual, ibu kepada bayinya

e. Tempat kuman masuk : Penis, vagina, anus, mulut, tranfusi

2. Gonore (GO)

Gonore adalah PMS yang paling sering ditemukan dan paling mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam penyakit kelamin ini adalah ”kencing nanah”. Masa inkubasi 3-5 hari.

a. Kuman penyebab : Neisseria gonorrhoea

b. Perantara : Manusia

c. Tempat kuman keluar : penis, vagina, anus, mulut

d. Tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut

e. Cara penularan : kontak seksual langsung

f. Tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut

3. Limfogranuloma Venerium

Masa inkubasi 1-4 minggu pada tempat masuknya mikroorganisme berupa lesi yang tidak khas baik berupa erosi, papul, atau ulkus yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Beberapa minggu kemusian timbul pembengkakan kelenjar getah bening. Tumor tampak merah dan nyeri, pelunakan yang terjadi tidak serentak sehingga memecah dengan fistel. Penyakit meluas ke kelenjar getah bening di rongga panggul. Pada wanita, disamping gejala diatas, manifestasi dapat terjadi pada kelenjar iliaka, sehingga terjadi nyeri waktu buang air besar atau berhubungan seksual. Nama lainnya : bonen

a. Kuman penyebab : Chlamydia trachomatis

b. Perantara : manusia

c. Tempat kuman keluar : Penis, vagina, mulut.

d. Cara penularan : kontak seksual

e. Tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut

4. Herpes Genetalis

a. Nama lain : Jengger ayam (genital warts)

b. Penyebab : Papilioma virus

c. Perantara : Manusia

d. Tempat kuman keluar : Penis, vagina, anus

e. Cara penularan : hubungan seksual

f. Tempat kuman masuk : penis, vagina, anus

5. Kutu kemaluan

Adalah suatu pennyakit kelamin yang ditandai gatal pada kemaluan yang disebabkan oleh sejenis kutu.

a. Penyebab : Public lice, pediculus pubis, kutupubis

b. Perantara : rambut kelamin, pakaian dalam, alat tercemar kutu dan telurnya

c. Tempat keluar kutu : rambur alat kelamin

d. Penularan : hubungan seksual, terkena bahan tercemar. (hhttp://www.geocities.com)

  1. Pencegahan dan Pengobatan PHS

1. Gejala-gejala yang dapat dilihat dari PHS :

a. Perubahan pada kulit di sekitar kemaluan

b. Saat membuang air kecil terasa sakit

c. Gatal pada alat kelamin

d. Terasa sakit pada daerahh pinggul (wanita)

e. Meski tanpa gejala, dapat menularkan penyakit bila sudah terkena

f. Hanya dokter yang mapu menangani penyakit menular seksual

2. Akibat yang ditimbulkan PHS :

a. Pada emosi : ketakutan, perasaan malu, bersalah

b. Dapat menular dari ibu kepada bayinya

c. Gangguan atau cacat pada bayi yang dikandung

d. Kemandulan pada pria dan wanita

e. Kematian

3. Rantai penularan penyakit menular seksual :

Kuman, sebagai penyebab penyakit akan berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Ini menciptakan terjadinya penularan, sehingga setiap mata rantai merupakan bagian yang penting dalam penularan penyakit pada orang lain. Mengerti dan memutuskan salah satu mata rantai penularan adalah cara yang baik untuk mencegah penularan.

4. Rantai penularan PHS :

a. Virus, bakteri, protozoa, parasit, dan jamur

b. Manusia, bahan lain yang tercemar kuman

c. Penis, vagina, anus, kulit yang terluka, darah, selaput lendir

d. Yang paling umum adalah hubungan seks (oenis-vagina, penis-anus, mulut-anus, mulut-vagina, mulut-penis)

e. Hubungan seks, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dari orang yang terkena PMS ke orang lainnya (obat suntik terlarang, tranfusi darah yang tiak steril, jarum tato, dan lainnya.

5. Pencegahan :

a. Patahkan salah satu rantai penularan

b. Pakailah kondom

6. Pengobatan :

Datang dan berkonsultasi dengan dokter profesional. Berobat sendiri tanpa tahu dengan pasti sering berakibat semakin parah, dan menyebabkan kuman menjadi resisten terhadap obat-obatan.

7. Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya angka kejadian PMS :

a. Kontrasepsi, timbul perasaan aman tidak terjadi kehamilan

b. Seks bebas, norma moral yang menurun

c. Kurangnya pemahaman tentang seksualitas dan PMS

d. Transportasi yang makin lancar, mobilitas tinggi

e. Urbanisasi dan pengangguran

f. Kemiskinan

g. Pengetahuan

h. Pelacuran (http://www.geocities.com)

Kerangka berpikir

Lingkungan Sosial

Pekerja Seks Komersial

Penularan Penyakit Kelamin

Kerangka berpikir diatas menjelaskan bahwa terjadi hubungan saling mempengaruhi antara pekerja seks komersial, penularan penyakit kelamin dan lingkungan social. Arah panah tersebut menjelaskan pengaruh PSK tehadap limgkungan social dan penularan penyakit kelamin dan begitu juga sebaliknya.