Filsafat Ilmu (bab 3)

A.HAKIKAT PENALARAN DAN LOGIKA

Manusia diciptakan oleh Tuhan  selain untuk beribadah,juga dijadikan sebagai khalifah dimuka bumi.Manusia harus mampu menjadi pemimpin,baik pemimpin dirinya sendiri,memimpin keluarga dan memimpin dalam konteks yang lebih luas.Maka dari itu ,Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh makhluk lain,baik itu jin maupun hewan yaitu akal an nafsu.Akal dan nafsu keberadaanya sangat mempengaruhi kearah manusia akan memimpin dirinya atau masyarakat sekelilingnya,mau kearah yang benar atau kearah yang salah.

Manusia untuk dapat menguasai,mengkaji dan memanfaatkan jagat raya besrta isinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,manusia harus mampu mengoptilmalkanakal yang dimiliknya sehingga mampu untuk memperkomunibaiki dan mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara yang benar.

Mengapa manusia mampu mengembangkan pengetahuanya?menurut pakar filsafat Jujun S.Suriasumantri (1983).Karena manusia memiliki dua kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lainya.Pertama,Bahasa manusia  yang mampu mengkomunikasikan segala apa yang dimiliki kepada manusia yang lain dan jalan pikiranya melatar belakangi informasi tersebut.Yang kedua adalah Nalar,dengan nalarlahberfikir secara nalarlah manusia mampu berfikir secara cepat dan mantap.

Manusia dengan kedua kemampuan tersebut yaitu bahasa dan nalar yaitu dengan bahasa yang bersifat komunikatif  dan pikiran yang mampu menalar inilah yang menjadikan manusia dapat mengembangkan pengetahuanya.

1)   Penalaran

Penalaran adalah kegiatan berfikir yang memiliki karakteristik tertentu dalam menemukan suatu kebenaran.Dengan singkat bahwa penalaran dapa didefinisikan sebagai suatu proses berfikir dalam suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang benar.Penalaran sebagai suatu proses berfikir didasarkan dua hal yang utama,yaitu analitis dan logika analisis adalah logika penalaran yang bersangkutan.Artinya penalaran ilmiah yang dipergunakan urangka berfih satu ciri penalaran yang mengandung pengertian bahwa setiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tertentu.dengan kata lain,penalaran adalah suatu cara berfikir yang logis,dimana berfikir logis adalah suatu kegiatan berfikir menurut suatu pola tertentu atau logika tertentu.Analitis adalah ciri kedua dari penalaran,yaitu kegiatan berfikir yang mendasarkan diri pada suatu analisis,sedangkan kerangka berfikir yang digunakan untuk analisis adalah logika penalaran yang bersangkutan.Manusia dalam melakukan berfikir tidak selalu didasarkan pada penalaran,namun ada juga kegiatan yang berfikir yang didasarkan pada perasaan dan intuisi (berfikir-non analitis).Kegiatan berfkir intuitif dalam kehidupan memiliki peranan yang penting yang kemudian sering dikaitkan dengan perasaan,dengan demikian dapat disimpulkan ada 2 cara berfikir dalam menemukan pengetahuan yang benar,yaitu:Penalaran (analitis) dan Intuisi dan perasaan (non analitis). Selain itu pengetahuan juga dapat diperoleh wahyu

Usaha manusia dalam memperoleh pengetahuan yang benar dapat dikelompokan menjadi dua.Yaitu: Pengetahuan yang diperoleh dengan usaha secara atif (penalaran,intuisi dan perasaan) dan pengetahuan yang diperoleh secara pasif berupa wahyu.Wahyu berasal dari Tuhan dan tidak diragukan lagi kebenaranya,sedangkan pengetahuan tersebut dipercaya atau tidak tergantung keyakinan masing-masing.

Untuk melakukan kegiatan analisis manusia.Dalam melukan kegiatan penalaran harus didasarkan pada pengetahuan yang berasal dari suatu sumber kebenaran.Dalam melkukan proses penalaran,pengetahuan yang dipergunakan diperoleh memlui dua sumber utama yaitu berdasarkan pada rasio dan fakta.Pada rasio kebenaran hanya didasarkan pada kebenaran akal pikiran manusia (rasionalisme).Sedangkan yang bersumber pada fakta dimana kebenaran suatu pengetahuan didasarkan pada fakta dilapangan maka benar bila ada faktanya (empirisme).

2)        Logika

Logika adalah ilmu pengetahuan tentang asas,aturan,hukum-hukum,susunan atau bentuk pikiran manusia yang dapat mengantarkan pikiran itu kepada suatu kebenaran.Logika tidak membahas tentangmemngingat namun penalaran. Penalaran adalah suatu proses berfikir manusia yang memerlukan pengetahuan tertentu agar memiliki dasar kebenaran yang kuat,maka proses berfikir tersebut harus dilakukan melalui cara tertentu.

Logika deduktif adalah cara penarikan kesimpulan yang dibangun berdasarkan premis umum (mayor) ke premis khusus (minor). Logika induktif adalah cara penarikan kesimpulan yang dibangun dari premis yang khusus ke umum baru ditarik kesimpulan

  1. Logika Deduktif

Adalah suatu proses berfikir yang didasarkan pada premis yang bersifat umum ke premis yang bersifat khusus dan kemudian dtarik kesimpulanya. Alat untuk mencapai pengetahuan dengan cara berfikir deduktif disebut silogisme. Silogisme adalah suatu argumentasi yang terdiri dari 3 proposisi. 2 proposisi pertama disebut premis mayor dan minor dan proposisi ke 3 disebut kesimpulan.

No Jenis Silogisme Bagan
1 Kategorik Semua S adalah PS1 adalah S

Jadi S1adalah P

2 Hipotetik Jika S dalam keadaan K ia akan PS1 dalam keadaan K

Jadi S1 adalah P

3 Alternatif Tidak mungkin secara bersama-sama S adalah P1 dan P2S1 harus memilih P1 atau P2

S1 memilih P1 (atau tidak P2)

Jadi S1 adalah tidak P2(Atau adalah P1)

4 Disjungtif Tidak biasa atau tidak mungkin S dalam keadaan K1 dan K2 adalah PS1 dalam keadaan K1

Jadi tidak biasa atau tidak mungkin S adalah P(atau adalah tidak P)

S=Subyek, P=Predikat,dan K=Kondisi

  1. Logika Induktif

Tujuan berfikir induktif adalah untuk membentuk pengetahuan yang umum.yang kemudian akan jadikan dasar deduksi itu,dijadikn premis mayor dari silogisme.Berfikir Induktif  berdasarkan fakta-fakta atau peristiwa khusus atau konkrit kemudian ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum.3 jenis induksi pokok yaitu:

  1. Induksi Lengkap

Dalam induksi lengkap atau induksi sempurna apa yang dilakukan penyelidik adalah semata-mata menghitung-hitung ciri-ciri subyek individu atau peristiwa dalam suatu kelas kemudian menyimpulkan hasil perhitunganya itu dalam suatu simpulan yang bersifat umum melibuti semua subyek individu atau peristiwa dalam kelas itu

  1. Induksi Bachon

Untuk mencapai suatu gejala sistem bachon meminta 3 macam tabulasi yaitu

  1. Tabulasi ciri-ciri positif
  2. Tabulasi ciri-ciri negatif
  3. Tabulasi variasi kondisi
  4. InduksiTidak Lengkap

Berbeda dengan induksi sempurna,induksi tidak lengkap tidak meminta pengamatan terhadap suatu objek,individu atau peristiwa dalam suatu kelas cukup terhadap sebagaian saja dari subyek,individu atau peristiwa yang menjadi bagian dari kelas itu

B. SUMBER PENGETAHUAN

Eksistensi  manusia sangat dibatasi oleh waktu, ruang, dan syarat-syarat lain yang dibawa secara kodrati. Manusia tidak dapat hadir dalam 2 tempat yang agak berjauhan. Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di tempat lain tidak dapat kita saksikan secara langsung karena kondisi tertentu yang menghalang-halangi kita.

Akan tetapi dengan cara-cara tertentu manusia dapat melampaui batas ruang, waktu, dan sarat-sarat yang lainnya. Manusia mulai mendengarkan berita-berita, mengumpulkan informasi-informasi dan memeriksa data-data yang terkumpul dari peristiwa yang tidak ia alami sendiri. Dan peristiwa yang ia alami sendiri ia himpun, renungkan, olah dan ia simpulkan menjadi pengetahuan yang makin tepat dan mantap. Proses terbentuknya pengetahuan yang dimiliki manusia diperoleh dengan 2 cara pendekatan yaitu apriori (intern) dan aposteriori (ekstern).

Sumber pengetahuan yang dibangun berdasarkan logika deduktif dan induktif adalah suatu proses penalaran yang dibangun berdasarkan premis-premis yang berupa pengetahuan yang benar. Menurut Mundiri (2001) pengetahuan adalah hasil dari aktivitas mengetahui, yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan padanya. Benar menurut Jujun S Suriasumantri (1988) adalah pernyataan tanpa ragu. Artinya ketidak raguan adalah syarat mutlak bagi seseorang untuk dapat dikatakan mengetahui. Mengetahui dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat kita tangkap di dalam jiwa baik benda ataupun peristiwa atau sifat yang menyertai benda-benda tersebut.

Ada 2 sumber utama yang perlu diketahui oleh setipa manusia yaitu berdasarkan rasio dan pengalaman manusia. Pengetahuan yang diperoleh melaui rasio kebenarannnya berdasarkan pada kebenaran pikiran semata (rasionalisme). Sebaliknya sumber pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman, atau kebenaran pengetahuan hanya didasarkan pada fakta yang ada di lapangan( empirisme).

Kaum rasionalisme memperoleh pengetahuan dengan menggunakan penalaran sedangkan logika yang digunakan adalah logika deduktif .premis premis yang digunakan diperolh melalui ide ide yang dasarnya jelas dan dapat diterima .

Permasalahan utama yang dialami oleh kaum rasionalis adalah penilaian terhadap kebenaran premis premis yang digunakan untuk penalaran deduktif  karena premis yang digunakan bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman , maka penilaian semacam ini tidak bisa dilakukan .

Bagi kaum empiris pengetahauan manusia dapat diperoleh bukan dari penalaran yang bersifat rasional danj abstrak namun dari pengalaman yang kongkrit . Masalah utama yanmg muncul adalah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan  cenderung untuk menjadi kumpulan fakta  tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkintrdapat hal hal yang bersifat kontradiktif .

Perbedaan antara kaum rasionalisme dan kaum logika adalah kaum rasionalisme untuk dapat memperoleh pengetahuan diperoleh dengan menggunakan penalaran, sedangkan kaum logika menggunakan logika deduktif. Premis yang digunakan dalam proses penalaran diperoleh melalui ide yang menurut anggapan dasarnya jelas dan dapat diterima.

Kaum rasionalis menganggap masalah utama yang dihadapi adalah mengenai penilaian terhadap kebenaran premis yang digunakan untuk penalaran deduktif. Karena premis yang digunakan bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman. Pengetahuan yang bersumber dari pemikiran rasional cenderung bersifat solibisistik (hanya benar dalam kerangka pikiiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir tersebut  dan bersifat subyektif.

Kaum empiris, menurutnya pengetahuan manusia dapat diperoleh bukan dari penalaran yang bersifat rasional dan abstrak, namun diperoleh dari pengalaman yang kongkrit. Karena kaum empiris beranggapan bahwa gejala alamiah yang terjadi dimuka bumi ini bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan melalui panca indera manusia. Selanjutnya adalah mengenai menggunakan penalaran induktif, kaum ini menyebutkan dengan menggunakan nalar induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum melalui pengamatan terhadap gejala fisik yang bersifat individual, sedangkan masalah yang muncul dalam menyusun pengetahuan secara empiris ini adalah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi kumpulan fakta, yang kumpulan fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan kontradiktif.

Intuisi dan wahyu merupakan cara lain yang digunakan untuk mencari sumber pengetahuan selain menggunakan rasionalisme dan empirisme. Intuisi merupakan kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan tanpa melalui proses penalaran tertentu, Intuisi tidak dapat diandalkan karena bersifat personal dan tidak bisa diramalkan akan tetapi pengetahuan intuisif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Menurut Maslow dalam Jujun (1988) intuisi merupakan pengalaman puncak  atau peakeksperience.

Sedangkan, wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada manusia yang disalurkan melalui nabi yang diutus-Nya sepanjang jaman. Pengetahuan ini didasarkan pada kepercayaan akan hal-hal ghaib atau supranatural. Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahun, Kepercayaan kepada nabi merupakan utusan Tuhan, dan kepercayaan kepada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama, suatu pengetahuan harus dipercaya sebelum dapat diterima. Dengan demikian dapat diikatakan bahwa agama mulai dengan rasa percaya dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu dapat meningkat atau menurun, sebaliknya pengetahuan yang disebut ilmu berawal dari rasa tidak percaya. Dan setelah melalui proses pengkajian secara ilmiah kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian kita semula.

C. KRITERIA KEBENARAN

Unyuk menentukan kebenaran suatu pengetahuan ada tiga teori yang bisa digunakan sebagai criteria:

  1. Teori koherensi (teori kebenaran saling berhubungan),
  2. Teori korespondensi (teori kebenaran saling berkesesuaian),
  3. Teori pragmatisme (teori kebenaran konsekuensi kegunaan) (Jujun, 1988; dan Sudarsono, 2001).

Pertama, teori kebenaran yang didasarkan pada teori koherensi dapat disimpulkan  bahwa suatu proposisi atau pernyataan  dianggap benar apabila pernyataan tersebut bersifat koheran atau konsisten atau saling berhubungan dengan pernyataan yang sebelumnya dianggap benar.

Kedua, teori kebenaran yang didasarkan pada teori korespondensi yang digagas oleh tokoh yang bernama Bernard Russel (1872-1970) bagi penganut teori korespondensi ini suatu pernyataan dikatakan benar apabila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan tersebut saling berkesesuaian dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koherensi digunakan pada proses penalaran teoritis yang didasarkan pada logika deduktif. Sedangkan teori korespondensi digunakan untuk pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan data yang mendukung suatu pernyataan tertentu yang telah dibuat sebelumnya.

Ketige, teori kebenaran yang didasarkan pada eori paragtisma, teori ini dicetuskan oleh Pierce (1839-1914)  dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to maka our clier”, bagi orang yang menganut teori paragtisme menyatakan bahwa dalam suatu kebenaran pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dalam kehiduppan manusia, yang berarti suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan tersebut atau konsekuensi dari pernyataan tersebut mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Pragmatisme merupakan teori dalam penentuan kriteria kebenaran. Kriteria pragmatism juga digunakan oleh para ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah yang dilihat dalam perspektif waktu. Secara teoritis maka pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu tidak lagi demikian karena perkembangan ilmu yang meenghasilkan pernyataan baru dan pernyataan yang lama harus ditinggalkan. Pengetahuan ilmiah memang tidak berumur panjang.

D. CARA PENEMUAN KEBENARAN

Dalam penggunaan kata “ pengetahuan “dan “ ilmu “dari pada yang kita tangkap dalam jiwa kita harus berhati – hati. Pengetahuan (knowledge) sudah puas dengan “ menangkap tanpa guru “ kenyataan sesuatu, sedang ilmu (science) menghendaki penjelasan lebih lanjaut dari sekedar apa yang di tuntut oleh pengetahuan,. Misal, Si buyung memngetahui bahwa pelampung kailnya selalu terapung di air, ia akan membantah jika dikatakan bahwa gabus pelampung itu tenggelam, kejadian inilah yang di sebut dengan “ pengetahuan”.Manusia akan puas apabila ia dapat memperoleh pengetahuan mengenahi apa yang di permasalahkan dan lebih luas lagi apabila pengetahuan yang di peroleh itu adalah pengetahuan yang benar,Oleh karena itu manusia selalu ingin mencari dan memperoleh pengetahuan yang benar (Cholid Narbukodan Abu Ahmad Ahmadi,1997).

Pendekatan ilmiah menuntut dilakukannya cara – cara atau langkah – langkah tertentudnegn peraturan tertentu pula agar dapat di capai pengetahuan yang benar. Namun, tidak semua orang suka menaati tata tertb pendekatan ilmiah itu untuk sampai pada pengetahuan yang benar mengenai hal yang dipertanyakannya. Bahkan di kalangan masyarakat awam untuk memperoleh pengetahuan yang benar lebih baik suka menggunakan pendekatan non ilmiah.

1 . Cara Penemuan Kebenaran Non Imiah

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan manusia untuk memperoleh kebenaran melalui cara non ilmiah, diantaranya adalah :

a . Akal sehat (Common Sence)
b . Prasangka
c . Pendekatan intuisi
d . Penemuan kebetulan dan coba – coba
e . Pendekatan otoritas ilmiah dan pikiran kritis

Penjelasan ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut:

a . Akal sehat ( Common Sence )

Akal sehat menurut Counnaut yang dikutip Kerlinger (1973),adalah serangkaian konsep dan bagan yang memuaskan untuk penggunaan praktiis bagi kemanusiaan. Konsep adalah pertanyaan abstraksi abstraksi yang digeneralisasikan dan hal hal yang khusus. Bagan konsep adalah seperangkat konsep yang di rangkaikan dengan dalil – dalil hipotesis dan teori walaupun akal sehat yang berupa konsep dan bagan konsep itu dapat menunjukkan hal yang benar namun dapat menyesatkan.

b . Prasangka

Penumuan pengetahuan yang dilakukan melalui akal sehat kebanyaklan diwarnai oleh kepentingan orang yang melakukannya. Hal ini menyebabakan akal sehat mudah berubah menjadi prasangka. Orang sering tidak mampu mengendalikan keadaan  yang juga dapat terjadi pada keadaan yang lain.

c . Pendekatan intuitif

Dalam pendekatan  intuitif orang menentukan pendapat mengenai suatu hal yang berdasarkan atas ”pengetahuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih dahulu. Dengan intuitif oaring member penilaian tanpa didahulai kesuatu renungan.Metode ini disebut dengan pendekatan “a priori” Dalil – dalil yang doi peroleh  dengan “ a priori” mungkin cocok dengan pengalaman atau data empiris.

d . Penemuan Kebetulan Dan Coba _ Coba

Penemuan secara secara kebetulan dan coba – coba banyak diantaranya yang sangat berguna . Penemuan secara kebetulan diperoleh tanpa direncana,tidak pasti, serta melalui langkah – lngkah yang sistematikl dan terkendali, Contoh : percobaan yang dilakukan  Pvlov terhadap goella yang ada di dalam sangkarnya, di dalam sangkar gorilla di beri tongkat dan diluar sangkar di taruh pisang. Karena selera gorella ingin meraih  pisang tersebut gdan tangannya tidak dapat menjaukau pisang tersebut , kemudian ia mencoba – coba menggunakann tongkat tersebut. DEngan usaha coba-coba itu akhirnya pisang yang berada diluar sangkar dapat di raih

e . Pendapat otoritaas ilmiah dan pikiran ilmiah

Otoritas ilmiah biasanya dapat di peroleh seseorang yang telah menempuh pendidikan formal tertinggi, misalnya Doktor atau seseorang yang mempunyai pengalaman professional atau kerja ilmiah dalam suatu bidang cukup banyak (seorang Profesor).

2. Cara Penemuan Kebenaran Ilmiah

Pendekatan ilmiah yang berupa kegiatan penelitian ilmiah di bangun di atas teori-teori tertentu. Teori berkembang melalui penelitian ilmiah yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris di lapangan. Teori yang ditemukan dapat diuji keajegan dan kejituan internalnya. Artinya penelitian ulang yang dilakukan akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama pada langkah dan kodisi yang sama pula. Dengan pendekatan ilmiah ini orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya. Terdapat tiga tahapan berfikir (berfikir secara ilmiah) :

  1. Skeptic

Tahap berfikir ini, tidak langsung menerima kebenaran informasi atau pengetahuan yang diterima. Namun, mencoba untuk menanyakan fakta-fakta atau bukti-bukti terhadap setiap pernyataan yang diterima.

  1. Analitik

Tahap ini selalu berusaha menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapi, mana yang relevan dan mana yang menjadi msalah utama. Sehingga jawaban yang diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.

  1. Kritis

Tahap ini selalu berupaya mengembangkan kemampuan menimbang setiap permasalahan yang dihadapi secara obyektif. Hal ini dilakukan agar semua data dan pola pikir yang diterapkan dapat selalu logis.

E. Metode Ilmiah

Syarat-syarat tertentu dalam mendapatkan ilmu merupakan metode ilmiah. Metode dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematik. Berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan suatu pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran tersebut. Oleh karena itu metode ilmiah dalam pelaksanaannya menggunakan langkah-langkah yang melibatkan dua cara berfikir yaitu cara berfikir deduktif dan induktif. Ritchie Calder, dikutip oleh jujun: Proses kegiatan ilmiah dimulai ketiak manusia mengamati sesuatu (kita mulai mengamati obyek tertentu tersebut kalau kita mempunyai perhatian tertentu pula terhadap obyek tersebut). Ilmu dimulai dengan fakta dan di akhiri dengan fakta pula,apapun teori yang menjembatani antara keduanya. Teori merupakan abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Langkah-langkah sebagai alur berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam suatu prosedur yang yang mencerminkan tahapan-tahapan dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berfikir ilmiah yang berintikan logico-hypotetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Rumusan Masalah
  2. Menentukan Khasanah Pengetahuan Ilmiah
  3. Penyusunan Kerangka Berfikir dalam Penyusunan Hipotesis
  4. Penyusunan Hipotesis
  5. Pengujian hipotesis
  6. Penarikan kesimpulan

Untuk lebih jelasnya langkah-langkah metode ilmiah ini dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini :

PENGUJIAN HIPOTESIS

PERUMUSAN HIPOTESIS

PENYUSUNAN KERANGKA BERFIKIR

KHASANAH PENGETAHUAN ILMIAH

RUMUSAN MASALAH

DITOLAK

DITERIMA

Koherensi deduktif

Pragmatisme

Korespondensi induktif