PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA (ISLAM) TERHADAP KESETARAAN GENDER DI PONDOK PESANTREN DI KENDAL

PROPOSAL

  1. A.   JUDUL

PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA (ISLAM) TERHADAP KESETARAAN GENDER DI PONDOK PESANTREN DI KENDAL

  1. B.   LATAR BELAKANG

Pada zaman sekarang, kita sering mendengar atau melihat tentang kesetaraan gender dimanapun. Baik itu di media cetak atau elektronik. Kesetaraan dapat diartikan sebagai keadilan. Keadilan secara umum didefinisikan sebagai “menempatkan sesuatu secara proporsional” dan “memberikan hak kepada pemiliknya”. Definisi ini memperlihatkan, dia selalu berkaitan dengan pemenuhan hak seseorang atas orang lain yang seharusnya dia terima tanpa diminta karena hak itu ada dan menjadi miliknya. Kesetaraan gender sendiri dapat diartikan sebagai keadilan atau persamaan antara hak kaum perempuan dengan laki-laki. Kesetaraan gender ini timbul karena adanya ketidak puasan oleh pihak perempuan. Para perempuan merasa ditindas dan termarjinalisasi oleh kaum laki-laki. Mereka tidak diberi tempat atau kesempatan di area public.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia. Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial).Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.

Kendal dengan jargonnya kota beribadat dari dulu terkenal akan banyaknya pondok pesantren. Ada puluhan pondok pesantren yang terdapat di kota pesisir tersebut. Dari pondok pesantren modern hingga yang tradisonal ada di kota tersebut. Kurikulum yang ada pun telah disesuaikan atau mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu diharapkan para santri baik itu santri laki-laki atau santri perempuan dapat menghadapi segala permasalahan kehidupan yang ditemui dengan pendidikan agama. Tidak terkecuali menyelesaikan ketidakadilan gender sehingga kesetaraan gender dapat tercapai.

Bertolak dari uraian di atas peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian “PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA (ISLAM) TERHADAP KESETARAAN GENDER DI PONDOK PESANTREN DI KENDAL”.

 

 

  1. C.   RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Seberapa besar pengaruh pendidikan agama islam terhadap keseteraan gender di pesantren?
  2. Sejauh mana tingkat pemahaman santri terhadap kesetaraan gender?
  3. Sejauh mana kesetaraan gender di pondok pesantren di Kendal?
  1. D.   TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pendidikan agama Islam terhadap kesetaraan gender di pesntren
  2. Untuk mengetahui tingkat pemahaman santri terhadap kesetaraan gender.
  3. Untuk mengetahui sejauh mana kesetaraan gender di pondok pesantren di Kendal.
  1. E.   MANFAAT PENELITIAN
    1. Manfaat Teoritis
      1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.
      2. Memberikan sumbangan konseptual bagi penelitian sejenis.
  2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi lembaga terkait yaitu pondok pesantren dalam meningkatkan kesetaraan gender.

  1. F.    PENEGASAN ISTILAH
    1. Pendidikan

Ki Hajar Dewantoro menyatakan bahwa, pendidikan pada umumnya bertarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak. Menurut Jhon Dewey dalam bukunya Democracy and education menyebutkan, bahwa pendidikan adalah proses yang berua pengajaran dan bimbingan, bukan paksaan, yang terjadi karena adanya interaksi dengan masyarakat.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003)

  1. Agama

Menurut Daniel Bell agama adalah jawaban-jawaban menyeluruh terhadap pertanyaan-pertanyaan inti eksistensial yang selalu dihadapi umat manusia, pengkodifikasian jawaban-jawaban ini ke dalam bentuk-bentuk kredo menjadi signifikan bagi para penganutnya, ritual dan upacara-upacaranya memberikan ikatan emosional bagi setiap individu yang melaksanakannya, dan pembentukan tubuh institusional membawa mereka yang sama-sama menganut kredo dan melaksanakan ritus dan upacara tersebut ke dalam kongregasi (jemaat), dan yang tak kalah pentingnya tubuh institusi mampu melanggengkan ritus-ritus tersebut dari generasi ke generasi.

  1. Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

  1. Pesantren

Menurut Abu Ahmadi “Pesantren adalah suatu sekolah bersama untuk mempelajari Ilmu agama, kadang-kadang lembaga demikian ini mencakup ruang gerak yang luas sekali dan mata pelajaran yang dapat diberikan dan meliputi hadits, ilmu kalam, fiqhi dan ilmu tasawuf.” (Abu Hamit, 18)

Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qahar pesantren adalah asrama dan tempat para santri belajar ilmu agama juga ilmu yang bersifat umum dan di didik untuk bagaimana hidup mandiri.

  1. Kendal

Secara geografis kabupaten Kendal terletak di Provinsi Jawa tengah. Kabupaten Kendal berbatasan langsung dengan Semarang di sebelah timur, dengan Batang di sebelah barat dan Temanggung di sebelah selatan. Kota Kendal terkenal akan kota yang banyak terdapat pesantrennya.

  1. G.  LANDASAN TEORI
    1. Pendidikan
      1. Pengertian pendidikan

Langeveld seorang ahli pedagogik dari negeri belanda mengemukakan batasan pengertian pendidikan, bahwa pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan. Menurut Crow and Crow, pedidikan adalah proses yang berisi berbagai berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnyadan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan social dari generasi ke generasi. Lain lagi menurut Driyarkara yang menyatakan bahwa, pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan taraf manusia ke taraf insani itulah mendidik. Pendidikan adalah memanusiakan manusiamuda.

Robert W. richey menyebutkan bahwa; The term “Education” refers to the broad funcition of preserving and improving the life of the group through bringing new members into its shared concem. Education is thus a far broader process than that which occurs in schools. It is an essential social activity by which communities continue to exist. In Communities this function is specialzed and institutionalized in formal education, but there is always the education, out side the school with which the formal process is related. (Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah). (Thedore Brameld, 1999 : 2)

Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.  (Carter V. Good, 1977: 1)

  1. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan merupakan suatu gambaran dari falsafah hidup atau pandangan hidup manusia, baik secara perorangan mau[pun secara kelompok (bangsa dan Negara). Membicarakan tujuan pendidikan akan menyangkut system nilai dan norma-norma dalam suatu onteks kebudayaan, baik dalam mitos, kepercayaan dan religi, filsafat, ideology, dan sebagainya. Tujuan pendidikan disuatu Negara akan berbeda denagn tujuan pendidikan di Negara lainnya, sesuai dengn dasar Negara, falsafah hidup bangsa, dan ideologinegara tersebut.

Pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang baik, manusia-manusia yang lebih berkebudayaan, manusia sebagai individu yang memiliki kepribadian yang lebih baik. Nilai-nilai yang hidup dan berkembang disuatu asyarakat atau Negara, menggambarkan pendidikan dalam suatu konteks yang sangat luas, manyangkut kehidupan seluruh umat manusia yang digambarkan bahwa tujuan edidikan adalah untuk mencaai suatu kehidupan yang lebih baik (Achmad Munib, 2004: 29-30).

  1. Pengertian pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam (knowing), terampil melakukan ajaran Islam (doing), dan melakukan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (being). Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan melakukan, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan utama pendidikan agama Islam disekolah ialah keberagamaan, yaitu menjadi muslim yang sebenarnya. Keberagamaan inilah yang selama ini kurang di perhatikan.

  1. Kesetaraan Gender
    1. Pengertian Gender

Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda, dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala, sekarang dan berlaku selamanya.

Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

  1. Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan.

  1. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender
    1. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender
    2. Subordinasi
    3. Pandangan stereotipe
    4. Kekerasan
    5. Beban Ganda
  2. Pesantren
    1. Pengertian pesantren

Menurut Abu Ahmadi “Pesantren adalah suatu sekolah bersama untuk mempelajari Ilmu agama, kadang-kadang lembaga demikian ini mencakup ruang gerak yang luas sekali dan mata pelajaran yang dapat diberikan dan meliputi hadits, ilmu kalam, fiqhi dan ilmu tasawuf.” (Abu Hamit, 18)

Menurut Mas’ud Khasan Abdul Qahar pesantren adalah asrama dan tempat para santri belajar ilmu agama juga ilmu yang bersifat umum dan di didik untuk bagaimana hidup mandiri.

 

  1. H.  KERANGKA BERFIKIR

Dalam penelitian pengaruh pendidikan agama islam terhadap kesetaraan gender di pondok pesantren Kendal dapat dilihat dari bagan di bawah ini:

Pendidikan agama (Islam)

Pondok Pesantren (Kendal)

Kesetaraan gender

Ketidakadilan gender

Keadilan gender sangat diharapkan pada masa sekarang. Namun banyak faktor yang melanggengkan ketidakadilan gender di masyarakat salah satunya yaitu agama. Agama yang merupakan pedoman hidup seseorang seperti mendukung akan ketidakadilan yang terjadi antara kaum perempuan dan laki-laki. Namun sekarang agama mulai berubah tidak seperti dulu. Melalui lembaga pendidikan yang berbasis agama, mulai berubah. Kesetaraan gender telah menjadi pertimbangan penting dan tidak lagi dicegah.

  1. METODELOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif. Diharapkan dapat menjelaskan pengaruh pendidikan agama islam terhadap kesetaraan gender di pondok pesantren Kendal.

a)    Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek / subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari (Sugiono, 1998 : 57). Adapun populasinya yaitu santri di pondok pesantren di Kendal.

b)   Sampel

Menurut Arikunto (2002), sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sample juga merupakan sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 1998: 57). Dalam penelitian ini, akan diambil secara random

c)    Variabel penelitian

Variabel adalah konsep yang memilki variasi nilai (Effendi, 2002). Variabel diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan peneliti. Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas (independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel). variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi, dan variabe terikat merupakan variabel yang di pengaruhi oleh variabel bebas.

  • Variabel Bebas (independent variabel)

variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. Dan dalam penelitian ini, variabel bebasnya adalah pendidikan berbasis mayarakat sebagai metode pengajaran.

  • variabel terikat (dependent variabel)

Variabel teriakat adalah yang dipengaruhi. Dan dalam penelitian ini, variabel terikatnya adalah mata pelajaran sosiologi untuk meningkatkan pemahaman dan prestasi belajar siswa.

d)   Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini  adalah menggunakan uji t. uji t dapat dilanjutkan apabila berdistribusi normal. Untuk itu digunakan teknik Uji normalitas. Uji kenormalan merupakan bagian pendahuluan yang penting dalam menganalisis data. Hasil uji kenormalan ini berhubungan dengan jenis statistik yang akan digunakann dalam penelitian. Jika data berdistribusi normal maka uji hipotesis menggunakan statistik parametrik. Jika data berdistribusi normal, maka statistik yang digunakan adalah statistik non parametrik.

Uji kenormalan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik uji chi kuadrat. Rumus yang digunakan adalah sebgai berikut:

X2 =

Keterangan

X2 = chi kuadrat

Oi = frekuensi pengamatan

Ei = frekuensi yang diharapkan

K = kelas interval

Data berdistribusi normal jika X2hitung < X 2tabel dengan a = 5% dan dk = k -3 (Sudjana, 1996 : 293)

e)    Metode Pengumpulan data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, pengamatan lansung, kuesioner dan metode analisis data.

  1. Metode survei

Penelitian survey identik dengan penelitian kuantitatif. Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singrimbun dan Effendi, 1995 : 3).

  1. Metode pengamatan langsung (participant observation)

Menurut Surakhmad (1982: 162) yang dimaksud metode pengamatan langsung yaitu suatu metode yang digunakan, dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung kepada subyek yang diteliti. Dengan menggunakan metode seperti ini, maka akan memudahkan peneliti dalam mengkaji dan dalam mengambil data dari masyarakat.

  1. Metode Kuesioner dan Angket

Metode kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk meperoleh informasi daro responden tentang pribadi (Arikunto,1999: 124)

f)     Metode analisis data

  1. Menentukan Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan keahlian suatu instrument. Sebuah instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang dikehendaki. Uji validitas instrumen digunakan teknik uji validitas dengan korelasi product moment dari Pearson :

keterangan:

rxy                   : koefisien korelasi

X              : skor butir

Y              : skor total yang diperoleh

N              : Jumlah responden

∑XY        : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y

∑X2             : jumlah kuadrat nilai X

∑Y2             : jumlah kuadrat nilai Y

(Arikunto, 2002: 146)

Sedangkan untuk mementukan valid tidaknya instrument adalah dengan cara mengkonsultasikan hasil perhitungan koefisien korelasi dengan tabel nilai koefisien (r0) pada taraf signifikan 5 % atau taraf kepercayaan 95 %.

Apabila rxy ≥ rtabel → valid

Apabila rxy ≤ rtabel → tidak valid

  1. Menentukan Reliabilitas

Menurut Arikunto (2002: 154) reliabilitas menunjukkan suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data.

Untuk menguji coba instrumen dalam penelitian ini, peneliti menggunakan reliabilitas internal yaitu dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan. Rumus yang digunakan adalah rumus alpha :

r=

Keterangan:

r11 : reliabilitas instrument

k   : bnyaknya butir pertanyaan atau soal

∑σb2         : jumlah varians butir

σt2            : varians total

(Arikunto, 2002: 171)

DAFTAR PUSTAKA

http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2006/06/definisi-agama-dan-diskriminasi.html (14 Juli 2011)

http://diaz2000.multiply.com/journal/item/86 (11 Juli 2011)

http://www.maswins.com/2011/03/pengertian-pendidikan-menurut-uu-dan.html (9 Juli 2011)

http://www.masbied.com/2011/03/01/pesantren-sebagai-basis-penyebaran-ajaran-agama-islam/#_ftn5 (14 Juli 2011)

Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofyan. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta