Peran Perempuan Dalam Keluarga (Sosiologi Gender)

Keluarga pada hakikatnya merupakan lembaga terkecil dari sebuah masyarakat. Sebagai lembaga terkecil keluarga merupakan miniature dari berbagai unsure system social manusia.Suasana keluuarga yang kondusif akan menghasilkan inividu yang baik.Karena di dalam keluargalah seluuruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat. Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta iptek telah banyak memberikan pengaruh pada tatanan kehidupan manusia,baik yang psitif ataupun yang negative. Kehidupan keluargapun banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya.

Keluarga pada dasarnya memiliki fungsi sebagai berikut:

  1. Pembinaan nilai-nilai dan norma agama serta budaya
  2. Memberikan dukungan afektif berupa hubungan kehangatan,mengasihi dan dikasihi,mempedulikan dan dipedulikan dan lain-lain.
  3. Pengembangan pribadi berupa kemampuan mengendalikan diri,fikiran maupun emosi;mengenal diri sendiri maupun orang lain;pembentukan kepribadian;pelaaksanaan peran,fungsi dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga.
  4. Penanaman kesadaran atas kewajiban dan tanggung jawab individu terhadap dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Peran wanita sangat penting dan utama dalam memberikan pembinaan dan bimbingan baik jasmani maupun rohani kepada anak.Karena ibu mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi dengan setiap anggota keluarga.Dalam sebuah rumah tangga ibu mmempunyai peran antara lain:

  1. Istri bagi suami
  2. Ibu bagi anak-anaknya
  3. Ibu rumah tangga

Budaya masyarakat patrilineal memandang relasi suami&istri tidak terlepas dari pola pikir yang telah dibentuk dari atribut buddaya bahkan diwariskan secara turun temurun dari keluarga. Laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan peran yang sangat besar dan signifikan didalam rumah tangga.

Peran Laki-Laki Peran Perempuan
1.Laki-laki sebagai kepala rumah tangga 1. Sebagai ibu rumah tangga
2.Sebagai pengambilan keputusan dlm rumh tangga 2.Hanya menjalankan keputusan dala rumha tangga
3.Memegang kekuasaan tertinggi dalam ruumah tangga 3.Harus patuh terhadap perintah yang berlaku dalam rumah tangga
4.Laki-laki wajib member nafkah 4.Menerima pemberian suami
5.Sebagai orang pertama dalam keluarga 5.Menjadi orang kedua

Contoh  kasus:

Kelompok kami mengambil contoh kasus yang terjadi pada di Tegal yaitu pada keluarga Wiedyono. Dalam keluarga tersebut yang terdiri dari seorang ayah dan ibu yang mempunyai 2 anak laki laki. Ayahnya seorang lulusan sarjana peternakan salah satu universitas negeri di jawa tengah serta ibunya merupakan lulusan sarjana ekonomi di salah satu universitas negeri di jawa tengah.  Namun dalam  pemberian dalam nafkah pada keluarga terdapat pola yang tidak umu yang terjadi pada masyarakat pada umumnya. Yaitu Ibu atau Istri adalah sebagai pencari nafkah tunggal dengan bekerja di salah satu instansi pemerintah di kota Brebes. Sedangkan ayah atau suami tidak bekerja. Disni terlihat bahwa terjadi pembalikan peran. Yaitu ibu atau istri keluar dari area domestic dan berperan di area public dengan bekerja sedangkan ayah tau suami justru masuk ke area domestic dan tidak berperan di area public.

Dalam pandangan teori nurture, perbedaan peran dan status antara laki-laki dan perempuan tercipta melalui pembelajaran dari lingkungan setempat, sehingga tidak bisa berlaku universal, tetapi tergantung kepada kondisi sosial budaya yang mempengaruhinya. Lokasi daerah yang berbeda akan melahirkan kondisi sosial budaya yang berbeda, begitu juga dengan peran dan status antara laki-laki dan perempuan.

Teori nurture menyebutkan bahwa wanita lebih berperan dominan di area domestic seprti memasak, mencuci dan mengurusi segala keperluan dan kebutuhan rumah tangga,dan laki-laki lebih berperan pada urusan public yaitu mencari naffkah bagi keluarga. Namun pada kasus diatas terjadi pembalikan peran antara suami dan istri dimana si istri berperan di area public sebagai pencari nafkah dan suami berperan mengurusi kegiatan domestic yang seharusnya dikerjakan oleh sang istri.Hal itu menunjukan bahwa pada masa sekarang peran wanita dan laki-laki telah bergeser dan tidk seperti dulu lagi.perempuan tidak hanya sebagai konco wingking yang hanya mengurusi kebutuhan rumah tangga dan patuh terhadap suami.Namun perempuan telah bisa keluar dari area rumah tangga (Domestik) dan bekerja di area publik. Perempuan tidak hanya sebagai hiasan di rumah, sebagai ikon rumah tangga atau teman kamar sang suami namun bisa dan dapat berperan di masyrakat dan di keluarganya yaitu sebagai pencari nafkah tunggal bagi suami dan anak-anaknya.