Kesetaraan Gender di Pesantren

Ringkasan      :

Artikel ini merupakan pembahasan kesetaraan gender di pesantren. Keseteraan gender dalam masyarakat mempunyai tantangan yaitu dari lembaga agama (pesantren). Pesantren bisa dikatakan selalu melegimitasi ketidakadilan gender. Diharapkan pesantren mampu emnjadi ujung tombak dalam keadilan gender tanpa melanggar nilai dan norma agama yang berlaku.

Kata Kunci    : Kesetaraan Gender, Pondok Pesantren

Latar Belakang:

Pada zaman sekarang, kita sering mendengar atau melihat tentang kesetaraan gender dimanapun. Baik itu di media cetak atau elektronik. Kesetaraan dapat diartikan sebagai keadilan. Keadilan secara umum didefinisikan sebagai “menempatkan sesuatu secara proporsional” dan “memberikan hak kepada pemiliknya”. Definisi ini memperlihatkan, dia selalu berkaitan dengan pemenuhan hak seseorang atas orang lain yang seharusnya dia terima tanpa diminta karena hak itu ada dan menjadi miliknya. Kesetaraan gender sendiri dapat diartikan sebagai keadilan atau persamaan antara hak kaum perempuan dengan laki-laki. Kesetaraan gender ini timbul karena adanya ketidak puasan oleh pihak perempuan. Para perempuan merasa ditindas dan termarjinalisasi oleh kaum laki-laki. Mereka tidak diberi tempat atau kesempatan di area public.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diperkenalkan di Jawa sekitar 500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, lembaga pesantren telah mengalami banyak perubahan dan memainkan berbagai macam peran dalam masyarakat Indonesia. Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial).Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.

Gagasan         :

Kesetaraan gender merupakan salah satu efek atau dampak dari modernisasi sekarang ini. Kaum perempuan yang dahulu hanya sebagai “teman” laki-laki di rumah tangga atau biasa disebut kanca wingking, mulai bersuara untuk mendapatkan hak-hak mereka. Kaum perempuan mulai keluar dari area domestik dan mulai berperan aktif di area publik. Mereka menginginkan kesetaraan hak antara permpuan dan laki-laki di segala aspek kehidupan. Namun disisi lain kesetaran gender yang diperjuangkan oleh para perempuan terhadang oleh salah satu lembaga yang ada di masyarakat, yaitu lembaga agama. Lembaga agama secara tidak langsung ikut melegimitasi ketidakadilan gender. Pondok pesantren sebagai salah satu sarana ujung tombak syiar Islam turut ambil andil dalam hal itu. Walaupun sebenarnya permasalahan yang terjadi bukanlah terletak pada pondok pesantren tersebut secara umum. Namun lebih kepada bahan ajar atau kurikulum yang tidak relevan dengan kondisi zaman yang ada sekarang ini. Para pengajar di pondok pesantren masih saja mengggunakan kitab-kitab atau kurikulum yang mungkin saja kurikulum yang mereka ajarkan sama dengan usia mereka atau bahkan lebih tua. Namun kita jangan pernah menyalahkan sepenuhnya hal tersebut pada para pengajar. Karena masalah agama merupakan masalah yang bisa dibilang sangat vital namun sangat sensitif. Jadi tidak semudah itu mengubah sesuatu yang menyangkut agama. Apalagi telah mengakar dan membudaya lama dan telah menjadi umum karena kebiasaan masyarkat. Walaupun tujuannya itu baik tanpa menyalahi aturan agama. Namun sekarang banyak kita temui pondok pesantren yang bisa dibilang telah mengikuti perkembangan zaman. Contohya para pengajar yang mengajar di pondok tersebut sekarang tidak lagi di dominasi oleh kaum laki-laki saja namun telah bergesr. Kaum perempuan mulai ikut andil dalam mengajar. Hal itu bisa dibilang bahwa pondok pesantren tidak lagi melegimitasi ketidakadilan gender. Selain itu kurikulum pun telah disesuaikan dengan zaman.

Penutup          :

Pondok pesantren sebagai salah satu bentuk lembaga agama yang ada di masyarakat seharusnya tidak ikut melegimitasi ketidakadilan gender namun justru mendukung dan sebagi ujung tombak kesetaraan gender tanpa melanggar nilai dan norma yang berlaku dalam agama Islam. Pesantren mengajarkan bagaiman seharusnya para muslim harus bersikap untuk mencapai kesetaraan gender. Karena dalam Islam keadilan sangat dijunjung tiggi.

 

Daftar Pustaka                      :

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada

id.wikipedia.org/wiki/pondok_pesantren, (dl: 13 juni 2011)